Senin, 22 September 2014

Perguruan Tinggi Di Jawa Tengah

A. UNNES
http://unnes.ac.id/wp-content/uploads/unnes.jpg
Universitas Negeri Semarang (Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi universitas ini. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera.
Di kampus Sekaran, 12 Maret 2010, keberadaan Unnes sebagai universitas konservasi telah dideklarasikan. Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh hadir dan meresmikannya.
Dengan deklarasi itu, seluruh warsa Unnes bertekad untuk selalu menjunjung tinggi prinsip perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan secara lestari terhadap sumber daya alam dan budaya luhur bangsa. Unnes juga menempatkan konservasi sebagai wujud tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Gemanya, tentu saja, diharapkan sampai di kampus-kampus lain yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Unnes: Kelud, Bendan, Pegandan, Karanganyar, dan Tegal. Dengan begitu, makin kuatlah persenyawaan itu.
Sebagai perguruan tinggi negeri jelmaan Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), Unnes memberikan perhatian besar pada bidang kependidikan. Dari 59 program studi, 34 program studi di antaranya merupakan program studi kependidikan dengan gelar sarjana pendidikan (S.Pd.) bagi lulusannya.
Tak hanya pada jenjang sarjana, Unnes juga membuka sejumlah program studi pada jenjang magister (S2) dan program doktor (S3), di samping program diploma (D3). Di universitas ini dibuka pula pendidikan profesi dan Pendidikan Profesi Guru (PPG).





B. UDINUS

Dalam upaya meningkatkan peran pendidikan tinggi di Indonesia dalam konteks persaingan global sehingga mampu memperkuat daya saing bangsa, maka pada tahun 2001 berdasarkan SK Mendiknas RI No. 169/D/O/2001 tanggal 30 Agustus 2001 maka Yayasan Dian Nuswantoro Semarang mendirikan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) yang merupakan gabungan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika  dan Komputer (STMIK, SK MENDIKBUD No. 10/D/O/1994, tanggal 3 Maret 1994), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE, SK Mendikbud No. 26/D/O/99, 22 Februari 1999), Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA, SK Mendiknas No. No. 27/D/O/2000, tanggal 15 Maret 2000) dan Sekolah Tinggi Kesehatan (STKES, SK Mendiknas No.103/D/O/2000, tanggal 7 Juli 2000) Dian Nuswantoro digabungkan menjadi satu wadah universitas. Dalam penggabungan tersebut, STMIK menjadi Fakultas Ilmu Komputer, STIE menjadi Fakultas Ekonomi, STBA menjadi Fakultas Bahasa dan Sastra, STKES menjadi Fakultas Kesehatan, dan ditambah satu fakultas baru yaitu Fakultas Teknik. Penggabungan sekolah tinggi – sekolah tinggi di bawah naungan Yayasan Dian Nuswantoro ini juga didasari atas upaya untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja kelembagaan, sehingga menjadi organisasi yang sehat (organization health) dalam mengelola pendidikan. Kemudian pada tahun 2002, dibuka Program Pascasarjana Magister Komputer Teknik Informatika berdasarkan SK Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi No. 1322/D/T/2002, tanggal 5 Juli 2002. Sampai saat ini, Universitas Dian Nuswantoro memiliki 5 Fakultas dengan 18 Program Studi dan Program Pascasarjana dengan 1 program studi.
Komitmen pengelola UDINUS, khususnya para pimpinan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di UDINUS adalah cukup tinggi, yang semua itu didasari atas perubahan tatanan pendidikan di Indonesia. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perubahan Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi 2003-2010 (HELTS), adanya RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan) adalah menjadi pemicu dalam meningkatkan mutu pendidikan di UDINUS. Sehingga Anggaran Dasar (STATUTA), Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran tahun 2006-2010 juga diubah, disesuaikan dengan kebijakan pemerintah dan perubahan yang terjadi di tingkat global. Perubahan-perubahan yang terjadi di UDINUS itu dilakukan dalam rangka menciptakan manajemen pendidikan yang berkualitas sehingga diharapkan para lulusannya (alumni) menjadi manusia yang bermutu, mampu bersaing di ranah lokal, kawasan regional maupun di pasar global.
Untuk menjamin agar pendidikan di UDINUS dapat berlangsung dengan baik dan berkualitas, maka Rektor mengeluarkan Surat Keputusan No. 204Kep/UDN-01/VI/2006 tentang pengangkatan Tim Badan Penjaminan Mutu (BPM) Universitas Dian Nuswantoro. Dalam melakukan penjaminan mutu di UDINUS, tim BPM dibimbing oleh Satuan Penjaminan Mutu Institut Teknologi Bandung (SPM ITB). Pembimbingan SPM ITB dalam pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan di UDINUS ini merupakan bagian dari Kesepakatan Bersama (MoU) antara UDINUS dengan ITB yang ditandatangani oleh Rektor Udinus dan Rektor ITB pada bulan Maret 2006. Kemudian diperkuat dengan Perjanjian Kerjasama antara Wakil Rektor Bidang Akademik UDINUS dengan Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kemitraan ITB dalam melaksanakan Twinning Program termasuk didalamnya adalah partisipasi UDINUS dalam program Quality Assurance ITB. Partisipasi ITB dalam membimbing pelaksanaan penjaminan mutu di UDINUS telah dilakukan secara riil dengan melakukan kunjungan ke UDINUS pada tanggal 29 Juni 2006 untuk melihat secara langsung proses belajar mengajar, fasilitas yang dimiliki dan diskusi tentang kurikulum. Di samping itu pada tanggal 28 Juni 2006, UDINUS telah mengirimkan Laporan Evaluasi Diri termasuk dokumen-dokumen mutu yang telah disusun oleh BPM UDINUS untuk dikaji oleh TIM SPM ITB.
Komitmen UDINUS dalam meningkatkan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan ini adalah suatu hal yang wajib dilaksanakan karena sudah dituangkan dalam salah satu misi UDINUS yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas. Beberapa aspek yang berkaitan langsung dengan penyelenggarakan pendidikan dan pelayanan yang berkualitas telah dan sedang dibenahi, diantaranya peningkatan kapasitas dan kualitas laboratorium, perpustakaan, studi lanjut S2 dan S3, sistem informasi, dan lain sebagainya. Di samping aspek yang berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, untuk mendukung kenyamanan mahasiswa dalam kuliah,   UDINUS juga memiliki UPT Poliklinik (Umum dan Gigi) yang dapat digunakan oleh mahasiswa maupun dosen dan karyawan dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan. Sementara itu, untuk mewadai kreativitas mahasiswa dalam bidang broadcasting dan multimedia, UDINUS memiliki UPT Televisi Kampus dengan nama TV-KU (Televisi Kampus UDINUS) yang mempunyai izin  resmi dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Dengan mengusung misi ‘menumbuhkembangkan llmu pengetahuan dan teknologi’, materi siaran TV-KU difokuskan pada bidang pendidikan dan telah mampu melakukan siaran rutin mulai jam 13.00 sampai dengan jam 10.00 wib
               


C. UNISULA
sejarah-un

Unissula didirikan oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) pada tanggal 16 Dzulhijjah 1381 H, bertepatan dengan 20 Mei 1962 M, Tiga fakultas telah dibuka yakni Fakultas Agama Islam, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Pasti Alam. Pada tahun berikutnya didirikan Fakultas Kedokteran (10 Oktober 1963). Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, dan Fakultas Teknik kemudian menggantikan FIPIA dibuka pada tahun berikutnya, bersama dengan semangat untuk meningkatkan pengetahuan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sekarang, Unissula telah berkembang menjadi universitas terkemuka dengan 12 fakultas dan 27 program sarjana (S1) dan 5 program pascasarjana (S2) serta Diploma 3 (D3)
Sebagai salah satu Universitas Islam terkemuka di Indonesia dengan pengalaman selama 50 tahun, Unissula memiliki peran strategis bagi Indonesia dan dunia Islam pada khususnya. Dengan demikian, prestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi harus dicapai serta sumber daya manusia yang berkualitas akan terus diciptakan. Menyelenggarakan pendidikan tinggi islam yang berorientasi pada kualitas dan kesetaraan universal melalui penerapan budaya akademik islami.

 D. UKSW
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) semula lahir dengan nama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPG-KI). Diresmikan pada tanggal 30 November 1956 dengan lima jurusan, yaitu Pendidikan, Sejarah, Bahasa Inggris, Hukum, dan Ekonomi. PTPG-KI Satya Wacana berubah menjadi FKIP-KI pada tanggal 17 Juli 1959. Kemudian pada tanggal 5 Desember 1959 diresmikan menjadi Universitas Kristen Satya Wacana dengan kehadiran Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum yang kemudian diikuti dengan pembukaan beberapa Fakultas dan Program Studi baru.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta yang kini melewati usia emasnya, Satya Wacana yang berarti “Setia Kepada Firman Tuhan”, terus berkembang dan mendapat kepercayaan baik dari masyarakat maupun pemerintah.
Pada saat ini UKSW memiliki 56 Program Studi yang terdiri dari 4 Program Studi Diploma 3, 39 Program Studi Program Sarjana (S1), 10 Program Studi Program Magister (S2), dan 3 Program Studi Program Doktoral (S3).



E. UNS
“Kebeningan matahari pagi tanggal 11 Maret 1976, hari Kamis Kliwon, menambah cerah dan semaraknya sepanjang jalan tengah alun-alun utara Solo hingga sampai di Siti Hinggil. Hiasan warna warni dari kain dan janur, permadani merah bersih yang tergelar mulai dari Pegelaran sampai di Siti Hinggil dan terpugarnya wajah bangunan Siti Hinggil sendiri, menjadikan tempat upacara.” (Abu Alim Masykuri, 1977)
Sebelas Maret jam 10.00 pagi, dengan dibacanya Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang pembukaan “Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret”, maka Universitas Sebelas Maret (UNS) resmi berdiri sebagai Perguruan Tinggi Negeri di Solo. Pemandangan yang meriah meramaikan peresmian universitas negeri yang telah ditunggu kelahirannya sejak lama itu. Cikal bakal UNS sendiri dapat dirunut jejaknya dari 1950-an.
Pada masa itu, Solo telah memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah universitas negeri sendiri, mengingat kota lain telah memiliki universitas yang umurnya bahkan telah mencapai puluhan tahun. Namun, akibat perang, penyatuan pemerintahan, kekeruhan arus politik, ekonomi rakyat rusak, dan lain-lainnya, universitas negeri di Solo belum dapat diwujudkan.
Pada 1953, setelah semua kekacauan berakhir, timbul keinginan mewujudkan universitas itu kembali. Hal ini mengingat Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa asli, serta terdapat potensi yang besar di lapangan perguruan, baik tenaga pengajar dan siswanya. Panitia pendirian universitaspun dibentuk, dengan ketua Mohammad Saleh, Wali Kota Solo saat itu. Hanya saja, usaha ini gagal sebelum sempat dimulai.
https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/225165_360972384017531_950390361_n.jpg
UNS di Tahun 1978.
Penyebabnya adalah tidak adanya sumber keuangan baik dari pemerintah daerah dan pusat, timbulnya keinginan sementara golongan untuk mendirikan universitas swasta secara sendiri-sendiri, dan kurang mendapat simpati beberapa orang dari Universitas Gajah Mada. Adanya hambatan dan pembangunan yang sedang dilakukan di Kota Solo membuat gagasan pendirian itupun lenyap. Hal itu ditambah pula dengan kegaduhan politik antarpartai yang berebut kekuasaan di pemerintahan.
Sepuluh tahun kemudian, pada 1963, mendadak muncul Universitas Kota Praja Surakarta (UPKS). Universitas ini diinisiasi oleh pemerintah daerah kala itu, yang dipimpin oleh Utomo Ramelan. Di masa ini pula, Partai Komunis tengah tumbuh dengan baik. Berbagai lini kehidupan juga terpengaruh keadaan itu. Begitu pula dengan UPKS, ilmu tentang sosialisme berkembang di dunia pendidikan universitas. Umur universitas ini juga tidak lama. Saat peristiwa G30 S pecah di Indonesia, universitas ini pun akhirnya terkubur karena semua hal yang berbau sosialisme/komunisme kemudian dilarang.
Gagasan pendirian universitas muncul lagi pada 11 Januari 1968, saat R. Kusnandar menjadi Wali Kota Kepala Daerah Kota Madya Surakarta. Ia pun membentuk panitia pendirian universitas. Hanya, seperti panitia yang terbentuk sebelumnya, panitia inipun gagal. Latar belakang kegagalan ini juga masih sama dengan sebelumnya, yaitu pemerintah pusat waktu itu tidak dapat membiayai pendirian universitas negeri di Solo serta keuangan daerah Solo ketika itu juga tidak mampu untuk membiayainya.
Di saat yang hampir bersamaan, pada 1966, Universitas Nasional Saraswati pun mengajukan dirinya untuk menjadi universitas negeri. Hal itu diperbolehkan oleh menteri. Kemudian, beserta universitas swasta dan kedinasan lainnya, sekumpulan universitas ini menjadi satu universitas baru bernama Universitas Gabungan Surakarta (UGS). Pada 1 Juni 1975, delapan universitas yang tergabung dalam UGS resmi didirikan. Kedelapan universitas itu adalah: STO Negeri Surakarta, PTPN Veteran Surakarta, AAN Saraswati, Universitas Cokroaminoto, Universitas Nasional Saraswati, Universitas Islam Indonesia cabang Surakarta, Universitas 17 Agustus 1945 cabang Surakarta, dan Institut Jurnalistik Indonesia Surakarta.
Pada penghujung Desember 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meninjau UGS dan memastikan bahwa pada 11 Maret 1976, UGS akan di-“negerikan.”
Selanjutnya, UGS akan digabung dengan perguruan tinggi negeri dan swasta lain untuk membentuk universitas negeri di Solo. Perguruan tinggi tersebut adalah: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri, Sekolah Tinggi Olahraga, Akademi Administrasi Niaga Negeri yang sudah diintegrasikan ke Akademi Administrasi Niaga Negeri di Yogyakarta, Universitas Gabungan Surakarta, Fakultas Kedokteran P. T. P. N. Veteran cabang Surakarta. Universitas tersebut terdiri atas 9 fakultas, yaitu: Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan, Fakultas Sastera Budaya, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian serta Fakultas Teknik.

F. UNTAG
Universitas 17Agustus 1945 Semarang kemudian lebih dikenal dengan singkatan nama UNTAG Semarang, dibentuk dan mulai melakukan kegiatannya pada bulan Agustus tahun 1963. Keberadaan UNTAG Semarang yang pada waktu itu bemama Universitas Nasional (UNNAS) tidak dapat lepas dari tokoh pejuang yang bemama Bapak G. Wirjono, SH dan Bapak Soemario sebagai pendiri, perintis dan pemimpin. UNTAG Semarang pada awal berdirinya, merasa terpanggil untuk mendirikan perguruan tinggi berazaskan nasionalisme, didukung oleh beberapa dosen perguruan tinggi negeri yang ada pada waktu itu yaitu Universitas Diponegoro. Keberadaan UNNAS Semarang semakin kokoh dengan disahkannya Yayasan Pembina Pendidikan 17 Agustus 1945 Semarang melalui Akte Notaris Soeprapto nomor 62 tanggal 23 Maret1964, sebagai Yayasan yang membina dan menyelenggarakan UNNASSemarang. Pada akhir tahun 1964 oleh para pendiri dan pendukungnya (UNNAS) Semarang diubah namanya menjadi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang sebagaimana dikenal sekarang.
Fakultas yang dibuka pada waktu didirikan:
·         Fakultas Hukum
·         Fakultas Ekonomi
·         Fakultas Sosial dan Politik (SOSPOL)
·         Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia
·         Fakultas Sastra
·         Fakultas Pertanian
·         Fakultas Kedokteran
·         Fakultas Farmasi
Perkembangan selanjutnya Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian dan Fakultas Farmasi dibatalkan penyelenggaraannya karena beberapa persyaratan dan fasilitas pendukung yang belum dapat dipenuhi. Sejak didirikannya Universitas 17 Agustus 1945 Semarang berkembang dengan pesat sehingga membuka 7 (tujuh) cabang dan 18 (delapan belas) kelas paralel di dua puluh lima kota di Jawa Tengah, diantaranya Tegal, Pemalang, Pekalongan sampai Rembang dan Blora dipesisir utara, kemudian Salatiga, Temanggung, Wonosobo Purworejo, Magelang, Yogyakarta, Surakarta sampai Sragen. Untuk lebih mengobarkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia lebih luas sehingga menjangkau wilayah Indonesia, maka pada akhir tahun 1964, UNTAG Semarang menggabungkan diri dengan UNTAG Jakarta. Akibat penggabungan ini UNTAG Semarang menjadi berstatus cabang dari UNTAG Jakarta.Pada saat itu di beberapa kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Banjarmasin, Makasar, Cirebon, Banyuwangi, Denpasar, Yogyakarta, dan beberapa kota lain telah berdiri Universitas 17 Agustus 1945 dimana UNTAG Jakarta sebagai pusatnya, dan Universitas dengan nama lain tetapi memiliki azas yang sama dengan UNTAG.
Masa inilah UNTAG menjadi kekuatan yang besar bertaraf nasional dan sangat disegani sebagai lembaga pendidikan tinggi.Lima fakultas yang telah melangsungkan proses pendidikannya yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sosial dan Politik, Fakultas Sastra dan Fakultas Teknik memperoleh status terdaftar pada tahun 1965, dengan Surat Keterangan Terdaftar dari Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 350/B.Swt/P/1965 tanggal 17 September 1965.Seiring dengan lahirya Orde Baru pada tahun 1967, pemerintah waktu itu mengeluarkan peraturan yang pada intinya berupa instruksi/perintah agar keberadaan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) di setiap kota di Indonesia harus berdiri sendiri, tidak diperkenankan bergabung dengan UNTAG Jakarta. Menjawab instruksi pemerintah tersebut maka Universitas 17 Agustus 1945 Semarang kembali berdiri sendiri dibawah naungan Yayasan Pembina Pendidikan 17 Agustus 1945Semarang. Namun sangat disayangkan bahwa dengan instruksi pemerintah tersebut maka UNTAG Semarang tidak boleh membuka cabang di kota lain. Akibatnya cabang-cabang UNTAG Semarang yang tumbuh pesat di berbagai kota di Jawa Tengah pada awal pendiriannya harus  ditutup. Kemudian para mahasiwa yang menempuh di cabang-cabang tersebut dapat meneruskan pendidikannya di UNTAGSemarang.

Pada tahun 1970 Fakultas Sastra dihapuskan dan dibentuk lembaga baru yang berdiri sendiri yaitu Akademi Bahasa (AKABA) 17 Agustus 1945 Semarang. Memenuhi tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat, UNTAG Semarang disamping mengembangkan program studi yang telah ada Juga membuka Fakultasdan Program Pendidikan baru, sebagai berikut:

·         Fakultas Teknik membuka jurusan/pogram studi Teknik Kimia pada tahun 1982, dan membukajurusan/program studi Teknik Arsitektur pada tahun 1984.
·         Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik membuka program studi Ilmu Administrasi Niaga pada tahun 1992.
·         Fakultas Ekonomi mengembangkan program studi Akuntansi pada tahun 1994.
·         Dibuka Fakultas Teknologi Pertanian dengan program studi Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian pada tahun 1994
·         Fakultas Hukum menyelenggarakan pendidikan Program Magister Ilmu0 Hukum pada tahun 2000.
·         Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik membuka Program Studi  Administrasi Bisnis Jenjang Program Diploma 3  pada tahun 2001.
Sampai dengan usia ke 42 tahun, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang telah mengalami berbagai pasang-surut, manis dan pahit-getirnya perjalanan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi untuk ikut serta mengemban amanat nasional mencerdaskan kehidupan bangsa  sebagaimana dicanangkan oleh para pendirinya. Demikian juga pimpinan Universitas 17 Agustus 1945 Semarang telah bergulir silih berganti, namun yang pasti adalah bahwa komitmen mtuk merealisasikan cita-cita para pendiri UNTAG Semarang terus berkobar di dada setiap sivitas akademika UNTAG Semarang. Kerinduan mendidik  untak menghasilkan kader-kader pemimpin Bangsa dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mencintai dan mengabdi kepada bangsanya akan selalu hidup sejalan dengan semakin kokoh dan berkembangnya UNTAG Semarang.

G. UNSOED
http://www.unsoed.ac.id/sites/default/files/unsoed_civic_univ.jpgUniversitas Jenderal Soedirman (UNSOED) terletak di Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas, pintu gerbang sebelah barat daya Provinsi Jawa Tengah. Berada di kaki Gunung Slamet (3.425 m), kota yang berjarak ± 350 km timur Jakarta atau ± 180 km barat Yogyakarta, cukup nyaman untuk dihuni sebagai kota pendidikan.  Sejak berdirinya setengah abad yang silam, UNSOED hingga saat ini bersetia dengan komitmennya sebagai pusat pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat yang menitikberatkan pada pengembangan sumberdaya perdesaan berkelanjutan.  Hal ini bukan tanpa alasan, potensi wilayah perdesaan di Indonesia yang terbilang luar biasa namun masih belum optimal,  membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan dalam mengembangkan agar lebih berdaya, mandir dan sejahtera. Oleh karenanya, UNSOED berusaha untuk berkontribusi sebagai solusi dalam problematika dan dinamika pengembangan tersebut.
Saat ini (2014) UNSOED memiliki 63 program studi dari jenjang ahli madya hingga doktor yang tersebar di 8 Fakultas dan 1 Program Pascasarjana dan telah meluluskan 72.567 alumni yang telah, sedang dan terus berkontribusi bagi kemaslahatan. Guna memastikan visinya menjadi world class civic university yang unggul dalam penguasaan IPTEKS yang relevan dengan pengembangan sumberdaya perdesaan berkelanjutan serta penggalian dan pemanfaatan kearifan lokal, maka UNSOED didukung oleh  staf pengajar yang memiliki kualifikasi mumpuni, dengan kekhasan pada riset-riset Biodiversitas tropis dan bioprospeksi; Pengelolaan wilayah kelautan, pesisir, dan pedalaman, Pangan, gizi dan kesehatan; Energi baru dan terbarukan; Kewirausahaan, koperasi, dan UMKM  serta Rekayasa sosial dan pengembangan pedesaan.
Kampus UNSOED sendiri berada di sejumlah lokasi di Purwokerto, yakni Kampus Grendeng, Karangwangkal (Purwokerto Utara), Kalibakal, Berkoh (Purwokerto Timur) serta Blater (Purbalingga). Rektorat dan Kantor Pusat Administrasi berada di Kampus Grendeng. Selain itu, yang berada di kawasan ini adalah Gedung Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, Masjid, Auditorium, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu, Gedung Pertemuan, UPT Perpustakaan, UPT Pusat Komputer, UPT Percetakan, UPT Pemberdayaan Fasilitas Lapangan Olahraga, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Sedang peruntukkan Kampus Karangwangkal adalah Asrama Mahasiswa, Rumah Susun Mahasiswa, Pusat Kegiatan Mahasiswa, GOR Soesilo Soedarman, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Masih di kawasan tersebut, terdapat pula Program Pascasarjana, Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Biologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Jurusan Ilmu Budaya), Fakultas Sains dan Teknik (Jurusan Matematika & IPA dan Jurusan Perikanan & Kelautan), Fakultas Kedokteran & Ilmu-ilmu Kesehatan (Jurusan-jurusan Kedokteran Gigi, Farmasi, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi dan Pendidikan Jasmani), Laboratorium Riset Terpadu, Experimental Farm serta Rumah Kaca. Kampus UNSOED juga berada di Purwokerto Timur, yakni di Kalibakal untuk Kedokteran Gigi dan Berkoh/RSUD Prof. Margono Soekarjo yang digunakan oleh Kedokteran. Sedangkan khusus di Blater, Purbalingga, terdapat Kampus Teknik yang berada di perbatasan antara Purwokerto-Purbalingga.





Selasa, 09 September 2014

Intel Resmi Perkenalkan Prosesor Intel Core M Broadwell Low Power untuk Perangkat Fanless

Chip prosesor generasi kelima milik Intel kini telah secara resmi diperkenalkan di ajang IFA 2014. Prosesor tersebut mereka sebut sebagai Intel Core M yang sebelumnya dikenal dengan kode nama Broadwell. Chip ini pun mengandalkan kemampuan efisiensi powernya yang tinggi, di mana produk terbaru ini hanya butuh power sebanyak 4,5 W.
Meski mempunyai tingkat konsumsi power yang rendah, bukan berarti performa prosesor ini kalah jika dibandingkan dengan Intel Haswell. Intel mengklaim kalau prosesor Core M tersebut memiliki kecepatan CPU 50 persen lebih tinggi dan grafis 40 persen lebih tinggi dibandingkan Haswell jika ditilik dari performa per watt. Selain itu, Intel mengatakan kalau chip 4,5W terbarunya ini punya kecepatan 2 kali lipat lebih baik dibandingkan Core i5 18W yang mereka rilis pada tahun 2010.
intel core M_1
Kehadiran prosesor Intel Core M ini pun memberikan revolusi dalam perangkat mobile, terutama untuk perangkat konvertibel dan tablet fanless. Dengan memakai prosesor ini, sebuah perangkat fanless bisa hadir dengan ketebalan kurang dari 9 milimeter. Selain itu, chip terbaru ini memberikan daya tahan baterai 1,7 jam lebih lama dibandingkan Intel Haswell.
intel core M_2
Kelebihan lain dari chip low power ini adalah jumlah panas yang sedikit. Dengan begitu, maka chip prosesor ini pun tak membutuhkan kipas sebagai pendingin tambahan. Dengan begitu, desain perangkat mobile yang dihasilkan tentu saja menjadi lebih tipis dan bisa mencapai kurang dari 9 milimeter.
via Liliputing
unisbank.ac.id
nim 13.01.55.0053